Cari Blog Ini

come on

Selamat Datang para Penyuluh yang peduli terhadap nasib pelaku usaha dan pelaku utama perikanan berikan masukan

Rabu, 06 April 2011

Teknologi Produksi Benih Ikan Nila Jantan


TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH IKAN NILA JANTAN
Oleh:
Ahmad Subhan, S.Pi
PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang diintroduksi dari luar negeri, ikan tersebut berasal dari Afrika bagian timur di Sungai Nil, Danau Tangayika, Chad, Nigeria dan Kenya, lalu dibawa oleh orang ke Eropa, Amerika, negara-negara Timur Tengah dan Asia. Di Indonesia benih ikan nila secara resmi didatangkan dari Taiwan oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar tahun 1969 (Suyanto 1998). Bagi petani ikan di Indonesia, produksi ikan nila saat ini selain untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri, ikan tersebut juga dipasarkan ke luar negeri, khususnya Singapura dan Jepang (Rochdianto 1993 dalam Ahmad 1995).Pada pemeliharaan yang dilakukan secara campuran (jantan dan betina), dan kelamin tunggal (monoseks), ternyata ikan nila jantan dapat tumbuh lebih cepat 1,53 – 2,69 gram per hari untuk mencapai ukuran konsumsi dibanding dengan ikan nila betina yang pertumbuhannya hanya 0,83 – 1,05 gram per hari (Jangkaru 1988). Selain pertumbuhannya yang cepat, ikan tersebut memiliki sifat-sifat unggul yang lain, yaitu tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, mampu mencerna makanan secara efisien dan tahan terhadap serangan penyakit (Suyanto 1998). Keistimewaan ini setidaknya dapat dimanfaatkan bagi suatu usaha budidaya kelamin tunggal (monoseks jantan) yang lebih produktif (Anonimous 1991).
Hal tersebut didukung oleh suatu hasil penelitian yang dilakukan oleh Kuo dalam Sugiarto (1988) bahwa produksi ikan nila semakin meningkat setelah diterapkan sistem budidaya tunggal kelamin (monoseks), namun dalam metode ini hanya jantan saja yang dipelihara. Untuk itu mengatasi masalah ini perlu dicari teknologi untuk menghasilkan jenis kelamin jantan saja. Tulisan ini menginformasikan beberapa teknology yang dapat menghasilkan benih jantan saja
TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH IKAN NILA JANTAN
Teknologi produksi benih jantan ikan nila dapat dilakukan dengan empat cara. Berikut ini akan diuraikan beberapa teknik produksi benih tersebut yaitu secara manual, hibridisasi antara spesies, merangsang perubahan seks dengan hormon dan manipulasi kromosom.
Secara Manual
Metode ini merupakan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyisihkan ikan yang paling kecil, yang memperlihatkan pertumbuhan buruk, untuk beberapa waktu sampai pertumbuhannya mencapai 200 gram. Kemudian hanya jantan yang diseleksi berdasarkan bentuk penampilannya (Shokita, dkk 1991).
Menurut Suyanto (1998), ciri-ciri yang dapat membedakan antara benih ikan nila jantan dan betina adalah sebagai berikut :
Sisik nila jantan lebih besar daripada nila betina.
Alat kelamin jantan berupa satu lubang di papila yang berfungsi sebagai muara urine dan sperma, sedangkan alat kelamin betina terdiri dari dua lubang yang juga terletak di papila. Salah satu lubang untuk muara urine dan yang lain untuk pengeluaran telur.
Sisik bawah dagu dan perut ikan nila jantan berwarna gelap, sedangkan pada nila betina berwarna putih atau cerah.
Sirip punggung dan sirip ekor ikan nila jantan bergaris hitam yang terputus-putus, sedangkan nila betina bergaris-garis tidak terputus-putus.
Walaupun dalam metode ini tidak diperlukan keahlian khusus ataupun perlengkapan khusus, tetapi waktu yang diperlukan sangat lama (Shokita, dkk 1991). Selanjutnya kegiatan seleksi tergantung pada keterampilan petani dalam mengenal perbedaan antara ikan nila jantan dan betina. Biasanya derajat kesalahannya dapat mencapai 10% yang disebabkan oleh kesalahan yang manusiawi (Suyanto 1998).
Hibridisasi
Hibridisasi merupakan “pembastaran” ikan-ikan yang berlainan jenis atau varietas. Ikan bastaran (hasil perkawinan silang) yang bersifat unggul merupakan hasil perkawinan langsung induk-induknya (F1). F1 hibrid hanya ditujukan untuk memproduksi benih ikan bagi keperluan konsumsi, bukan untuk induk (Sugiarto 1988).
Hibridisasi dengan mudah dapat dilakukan di beberapa lahan budidaya. Metode ini yaitu untuk mencari F1 hibrid yang dihasilkan dengan penyilangan betina Oreochromis niloticus dan jantan Oreochromis aureus. Telah diketahui bahwa kebanyakan F1 ini adalah jantan (Shkita, dkk 1991). Selanjutnya hibridisasi juga dapat dilakukan dengan cara mengawinkan induk lini murni antara Oreochromis mossambicus dengan Oreochromis honorum, Oreochromis nigra dengan Oreochromis honorum (Landau 1992).
Menurut hasil penelitian, hibridisasi antar spesies dalam genus Oreochromis dapat menghasilkan keturunan F1 yang hampir 100% jantan (Suyanto 1998).
Merangsang Perubahan Seks Dengan Hormon
Merangsang perubahan seks dengan hormon telah dipraktekkan di negara maju. Bahkan di Taiwan dan Israel telah dilakukan sejak 20 tahun yang lalu (Suyanto 1998). Mengutip Shokita, dkk (1991) bahwa metode perlakuan dengan hormon yaitu memperlakukan larva dengan hormon steroid jantan seperti metil testosteron dalam upaya untuk merubah jenis kelamin.
Menurut Purdom (1984), ada tiga cara atau metode dasar dalam pemberian hormon steroid untuk kepentingan pergantian jenis kelamin :
Melalui injeksi
Immersi (Perendaman dalam hormon)
Melalui pemberian makanan
Dari ketiga cara tersebut, cara yang terakhir (melalui pemberian makanan) adalah cara yang terbaik, terutama apabila menggunakan hormon metiltestosteron dan metiltestosteron, hormon tersebut dimaksudkan untuk merangsang pergantian jenis kelamin (Helpher dan Pruginin dalam Budisetijono, 1989).
Djarijah (1994) meneliti bahwa teknik alih kelamin ini hanya akan efektif apabila pemijahannya dilakukan dengan teknik pemijahan buatan. Hal tersebut dimaksudkan agar kontinuitas penyediaan benih lebih terjamin dalam jumlah yang banyak. Suyanto (1998) menegaskan agar ekonomis dalam pemberian hormon, jumlah larva dalam satu kali perlakuan minimum 50.000 ekor dengan kepadatan 750-1000 ekor/m3.
Yamazaki (1983) menyatakan bahwa periode yang baik untuk diberi perlakuan (pemberian hormon metil testosteron) adalah pada sradia larva atau pada saat ikan mulai makan. Selanjutnya dijelaskan bahwa periode tersebut adalah umur benih ikan antara 7-10 hari setelah menetas. Namun demikian keberhasilan perubahan jenis kelamin juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti macam dan dosis hormon yang digunakan, metode pemberian hormon, lama perlakuan dan jenis ikan serta suhu air selama perlakuan (Yamamoto dalam Nuraini 1990).
Dosis hormon yang diberikan dalam makanan antara 5 – 1000 mg/kg pakan tergantung species ikan itu sendiri (Suyanto 1998). Selanjutnya dosis yang diberikan harus dapat menimbulkan pergantian jenis kelamin sebanyak 50%. Sedangkan untuk “breeding” yang praktis, pada dosis yang rendah sudah dapat menghasilkan pergantian jenis kelamin secara menyeluruh
Manipulasi Kromosom
Menurut ilmu genetika, gen yang membawa sifat kelamin jantan ialah gen XY, sedangkan yang membawa gen betina adalah XX. Didalam sel telur terdapat gen yang hanya membawa setengah dari sifat itu yaitu X, sedangkan didalam sperma terkandung pecahan dari XY sehingga ada sperma yang membawa kromosom X dan ada yang membawa kromosom Y. jika terjadi pembuahan sel telur oleh sperma maka akan terbentuk gen rangkap (lengkap), yaitu XX dan XY (Suyanto 1998).
Manipulasi perubahan seks pada ikan nila menghasilkan ikan jantan yang mengandung gen penentu kelamin YY. Ikan ini disebut “jantan super”.
Sedangkan jantan biasa hanya mempunyai sebuah Y yang berpasangan dengan X sehingga menjadi XY. Jika jantan super dikawinkan dengan betina XX akan diperoleh ikan monoseks jantan 100% (Mair dkk. 1998). Selanjutnya menurut Rustidja (1999), salah satu cara untuk menghasilkan ikan jantan homozigot YY yaitu dengan teknik androgenesis.
Menurut Sumantadinata (1998), androgenesis adalah proses terbentuknya embrio dari gamet jantan tanpa kontribusi genetis dari gamet betina. Proses reproduksi ini tidak umum terjadi, sehingga pada androgenesis dilakukan proses buatan yaitu menonaktifkan bahan-bahan genetik yang terdapat pada telur dengan cara meradiasi telur tersebut (Thogaard, dkk 1990). Akibat perlakuan tersebut, maka semua embrio keturunan androgenesis berkembang tanpa peranan gamet betina dan bersifat haploid.
Individu haploid memiliki ciri-ciri yang abnormal misalnya bentuk punggung dan ekor yang bengkok, mata atau mulut yang tidak sempurna, ukuran tubuh yang kecil, sistem peredaran darah yang tidak normal dan ketidakmampuan melakukan aktivitas renang dan makan (Cherfas 1981).
Embrio diploid androgenesis dapat diperoleh dengan cara memberi perlakuan kejutan suhu terhadap telur yang telah diradiasi dan telah dibuahi oleh sperma (Cassani dan Caton 1985). Pada penelitian androgenesis pada ikan mas yang dilakukan oleh Eddy (1994), didapatkan hasil bahwa lama waktu kejutan panas yang dilakukan 40 menit setelah pembuahan pada suhu 400 C yang terbaik adalah 2 menit.
Menurut Penman (1993), pemberian kejutan panas pada saat pembelahan mitosis I akan mencegah pembelahan sel pertama dan menghasilkan duplikasi kromosom dari genom haploid paternal yang membelah menjadi dua .
Menurut Rustidja (1999), berdasarkan proses diatas maka androgenesis akan menghasilkan ikan jantan homozigot XX atau YY, sehingga kalau ikan androgenetik ini dikawinkan dengan ikan betina akan terjadi beberapa kemungkinan, yaitu :
Apabila betina (XX) dikawinkan dengan jantan (XX) maka akan terjadi ikan monoseks betina (100%).
Apabila betina (XX) dikawinkan dengan jantan (YY) maka akan diperoleh ikan monoseks jantan (100%)

Budidaya Ikan Nila (Oreochromis sp.)

BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis sp.)
Oleh:
Ahmad Subhan, S.Pi
Disampaikan pada Pelatihan Budidaya Air tawar tanggal 11 – 13 Agustus 2009
di Pondok Santai Kembangsari Selong

I. PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas penting dalam bisnis ikan air tawar dunia. Beberapa hal yang mendukung pentingnya komoditas nila adalah a) memiliki resistensi yang relatif tinggi terhadap kualitas air dan penyakit, b) memilliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan c) memiliki kemampuan yang efisien dalam membentuk protein kualitas tinggi dari bahan organik, limbah domestik dan pertanian, d) memiliki kemampuan tumbuh yang baik, dan e) mudah tumbuh dalam sistem budidaya intensif
Sebagai salah satu jenis ikan air tawar, nila telah lama pula dikembangkan sebagai komoditi ekspor baik dalam bentuk ikan utuh maupun dalam bentuk fillet. Negara-negara pengekspor ikan nila antara lain China, Ekuador, Kuba, Honduras, dan juga Indonesia. Adapun negara-negara yang tercatat sabagai pengimpor ikan nila antara lain Timur Tengah, Singapura, Jepang dan Amerika Serikat. Kebutuhan ikan nila Amerika Serikat cukup tinggi sedangkan produksi nila domestik belum dapat memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 1998 impor nila Amerika Serikat dari manca negara mencapai 45 ton dan pada tahun 1999 meningkat lagi 15% atau sekitar 52 ton (infofish, 2001).
Pengembangan Budidaya nila di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1969. Namun demikian budidaya secara intensif mulai berkembang tahun 1990-an yang berkaitan dengan maraknya budidaya nila di Keramba Jaring Apung. Perkembangan budidaya intensif di Indonesia belum begitu menggembirakan karena beberapa faktor antara lain masih rendahnya efisiensi produksi dan rendahnya harga pasar disamping pengadaan benih dan induk yang bermutu.
Pengkajian teknologi budidaya ikan nila dalam mendukung intensifikasi pembudidayaan diarahkan untuk meningkatkan efisiens produksi, dalam rangka meningkatkan daya saing harga. Beberapa upaya yang berkaitan dengan pengkajian teknologi antara lain pengkajian teknik pembenihan, yang meliputi; kontruksi kolam pemijahan, teknik pengelolaan induk dalam pemijahan (jumlah induk minimal yang dipijahkan dalam rangka menghambat laju silang dalam), teknik produksi benih tunggal kelamin jantan dan benih steril (melalui hormonisasi, YY-Male, dan tetraploidisasi). Sedangkan pengkajian teknik pembesaran diarahkan untuk menghasilkan ikan konsumsi yang memenuhi persyaratan ukuran permintaan ekspor (ukuran ikan minimal 500 gram per ekor) antara lain melalui kajian penggunaan benih tunggal kelamin.

II. TEKNIK PRODUKSI IKAN NILA
1. Pembenihan
a. Kontruksi Kolam
Kontruksi kolam yang digunakan merupakan penyempurnaan dari kontruksi sebelumnya yang menggunakan pintu monik sebagai out let. Outlet kolam menggunakan “standing pipe”. Kontruksi ini tidak memerlukan kayu papan untuk menutup pintu pengeluaran kolam (outlet), saat pemanenan cukup dengan memiringkan pipa sedikit demi sedikit sehingga larva tidak terbawa arus kuat, kematian larva dan induk pun relatif sangat sedikit. Tenaga kerja efisien dan efektif, yaitu cukup dua orang untuk kolam dengan luas 800 m2. Konstruksi dasar kolam dilengkapi dengan bak yaitu disebut dengan istilah kobakan berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar 0,5 sampai 1,5% dari luas kolam, dan tingginya 50-70 cm. dibuat dekat outlet kolam, dengan fungsi utamanya adalah sebagai tempat berkumpulnya induk dan larva pada saat pemanenan. Saluran dasar kolam (kemalir) dibuat dari inlet hingga ke kobakan yang berfungsi untuk memudahkan induk dan larva dapat berkumpul dalam kobakan pada saat panen. Penampang kolam pemijahan seperti pada Gambar 1.

b. Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan.

c. Pemijahan
BBAT Sukabumi mengembangkan sistem pengelolaan induk dalam satu unit produksi benih dengan mempertimbangkan bilangan pemijah. Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal disebut satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yang terdiri dari 100 ekor jantan dan 300 ekor betina (Ne = + 133,3). Dengan induk sejumlah ini diharapkan dapat menghambat laju silang dalam dan memungkinkan keturunannya dapat dijadikan induk kembali setelah melalui kegiatan seleksi. Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2, sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan seluas 400 m2. Satu periode pemijahan berlangsung selama 10 hari untuk dapat  dilakukan pemanenan larva. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama delapan periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan larva, tanpa harus mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk diangkat dari kolam pemijahan dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonad selama 15 hari. Selanjutnya paket induk tersebut dimasukkan kembali kedalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

d. Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein ( 28-30%). Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar 5 hari kedua. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Dengan demikian air yang mengalir ke kolam terlimpas ke luar kolam melalui saluran pengeluaran. Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam. Hal ini untuk menghindari hanyutnya larva juga menghindari limpasnya pakan alami yang terdapat di kolam pemijahan, sebagai makanan awal bagi larva.

e. Panen Larva
Panen larva dilakukan setiap sepuluh hari sekali pada pagi hari. Tergantung luas kolam, penyurutan kolam dapat mulai disurutkan sehari sebelumnya. Penyurutan air kolam dilakukan pertama-tama sampai setengah-nya. Sebelum surut total, bak tempat panen larva perlu dibersihkan dari lumpur dengan cara membuka sumbat outlet kobakan. Penyusutan secara total dilakukan sampai air hanya tersisa pada kobakan saja. Induk dan larva akan berkumpul pada kobakan, dan segera dilakukan pengambilan larva menggunakan scoop net. Kemudian larva ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm. Proses pengambilan larva ini dapat dilakukan oleh dua orang. Pemungutan larva dilakukan secara total sampai bersih termasuk yang masih terdapat dalam sarang, dengan cara membongkar sarang dan mengarahkan larva ke kobakan. Sarang tempat pemijahan induk nila yang berbentuk bulat di dasar kolam perlu dihitung untuk menaksir jumlah induk yang memijah dan diratakan kembali. Ukuran larva yang dipanen ada dua ukuran, untuk itu perlu dilakukan sortasi menggunakan hapa mesh size 1,5 mm. Jumlah induk betina yang memijah sebanyak 30-40% dengan perolehan larva sebanyak 60.000-80.000 ekor/paket/10 hari Larva ukuran kecil ( 9,0 sampai 13 mm) dapat digunakan untuk tujuan jantanisasi menggunakan pakan berhormon. Sedangkan larva ukuran besar dapat langsung didederkan dalam wadah pendederan.

2. Pendederan

a. Kontruksi kolam
Kontruksi kolam pendederan sama dengan untuk pemijahan. Tujuan lain dari kontruksi yang sama tersebut adalah bahwa antara kolam induk dan kolam benih dapat saling bergantian dalam penggunaannya.

b. Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pendederan ikan nila antara lain  peneplokan pematang dengan kontruksi tanah, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan penyaring di pintu pemasukan air, pemupukan dengan dosis 250-500 gram/m2 (sesuai dengan kesuburan tanah dan air), pengapuran (bila perlu) serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan penyaring dimaksudkan untuk menghindari masuknya predator, ikan-ikan lain dan atau ikan nila jenis lain yang dapat mempengaruhi tidak hanya dari segi kuantitas hasil produksi, tetapi juga kualitas benih yang dihasilkan.

c. Padat Tebar
Pendederan ikan nila dilakukan dalam dua atau tiga tahap. Pendederan tiga dapat langsung merupakan lanjutan dari pendederan kedua. Lama pendederan pertama adalah 30 hari dengan target benih berukuran 3-5 cm. Pendederan kedua dan ketiga, masing-masing juga 30 hari. Benih hasil pendederan ketiga berukuran sekitar 20-30 gram/ekor. Padat tebar pendederan pertama adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan untuk pendederan kedua dan ketiga masing-masing 75-100 dan 50 ekor/m2.

d. Pengelolaan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan pendederan 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 20, 10 dan 5% dari bobot biomas/hari. Pakan diberikan sehari 3 kali. Kandungan protein dalam pakan sekitar 26-28%. Debit air dalam pendederan satu dan kedua tidak terlalu besar, yakni sekedar mengganti air yang menguap dan rembes. Namun untuk pendederan ketiga debit air juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung media terutama ketersedian oksigen yang berguna dan dapat meningkatkan nafsu makan serta laju pertumbuhan.

e. Panen Benih
Panen benih harus dilakukan pada saat suhu air kolam dan udara relatif sejuk, terutama pada pagi hari. Hal ini untuk menekan angka kematian saat panen. Langkah-langkah kerja dalam aktifitas panen benih sama halnya dengan kegiatan panen larva.

f. Kriteria Mutu Benih Ikan Nila
Selain penguasaan teknik pembenihan, para pembenih juga sangat dianjurkan mengetahui kriteria benih yang sesuai dengan SNI. Berikut ini merupakan kriteria mutu benih ikan nila hitam berdasarkan SNI 01-6140-1999, yang terdiri dari kriteria kualitatif dan kriteria kuantitatif (Tabel 2)

KRITERIA LARVA BENIH
a. Asal Hasil penetasan telur dari pemijahan induk kelas pokok antara induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan (inbreed) Larva berumur 7 hari, hasil pemijahan induk kelas induk pokok antara induk jantan dan induk betina tidak satu keturunan (inbreed).
b. Warna Hitam Bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna gelap sampai hijau kelabu
c. Bentuk tubuh Normal Normal
d. Gerakan Bergerak dipermukaan sampai dasar wadah Bergerombol di permukaan tepi wadah dan aktif menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat sehingga tidak terlihat jelas gerakannya.



Tabel 2. Kriteria Kuantitatif Larva dan Benih Nila Hitam Kelas Benih Sebar.
No.
Kriteria
Satuan
Larva
Kebul
Gabar
Belo
Sangkal
1.
Umur maksimal
Hari
7
20
40
70
100
2.
Panjang total
Cm
0.6-0.7
1 – 3
 3 – 5
5 – 8
8 - 12
3.
Berat minimal
Gram
0.02
0.1
1.5
3.0
15
4.
Keseragaman ukuran
%
90
90
90
80
80
5.
Keseragaman warna
%
90
90
90
100
100
6.
Keseragaman kelincahan gerak akibat rangsangan luar
%
80 –90
90 – 100
90 – 100
90 – 100
90 - 100
7.
Keseragaman gerak berenang melawan arus
%
80 –90
90 – 100
90 – 100
90 – 100
90 - 100